Berikut adalah contoh Makalah Bahasa Daerah Makassar
MAKALAH
ADAK NA PANNGADAKANGA
Disusun Oleh :
Nama : 1.Ahmad Rahim
2.Arman
3.Dian Hidayah
4.Fitra Ramadhani
5.Humairah Nurul Hazwah
Kelas : X TKJ A
SMK N 1 MAROS
TAHUN AJARAN 2019/2020
LEMBAR PENGESAHAN
Karya ilmiah yang berjudul”ADAK NA PANNGADAKANGA”telah disahkan dan disetujui pada:
Hari :Selasa
Tanggal :
Disetujui oleh:
Guru Pembimbing
Mardiana, SS
NIP:
i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang maha pengasi lagi maha penyayang, kami panjatkan puji dan syukur atas kehadiratnya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang”ADAK NA PANNGADAKANGA”.
Makalah Multikultular”ADA NA PANGGADAKANGA” ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatka bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmia ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang”ADA NA PANNGADAKANGA” dan manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari, dan dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembaca.
Maros,Februari 2020
ii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………...i
KATA PENGANTAR……………………………………………......ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang…………………………………………..1
Rumusan Masalah…………………………………….....2
Tujuan Penulisan………………………………………..2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Suku Makassar……………………………….....3
2.2 Ritual Adat Suku Makassar……………………………..4
A.Accera’ Kalompoang…………………………………4
B.Mappalili……………………………………………...6
C.Suru Maca…………………………………………...13
D.Mappadendang………………………………………14
E.Palla Palang………………………………………….16
F.Sitobo’ Lalang Lipa’…………………………………18
2.3 Pakaian Adat Suku Makassar………………………….19
2.4 Alat Musik Tradisional Suku Makassar……………….20
2.5 Kue Tradisional Suku Makassar……………………….23
2.6 Makanan Tradisional Suku Makassar…………………25
2.7 Tarian Tradisional Suku Makassar…………………….26
iii
2.8 Istilah Adat Istiadat Suku Makassar…………………...29
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………..……..62
DAFTAR PUSTAKA……………………………………...63
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Keragaman etnis dan budaya memiliki potensi besar dalam membangun bangsa ini,termasuk dalam pembangunan dan pengembangan pendidikan. Keragaman budaya yang tumbuh dan berkembang pada setiap etnis seharusnya di akui eksistensinya dan sekaligus dapat di jadikan landasan dalam pembangunan pendidikan, terutama kita yang berdomisili di Sulawesi selatan ada suku Makassar yang memiliki adat adat tersendiri, dan cara melakukan budayanya tersebut dengan cara caranya masing masing, mulai dengan menggunakan kalimat suku Makassar itu sendiri hingga Melaksanakan Upacara adat.
Suku Makassar merupakan salasatu suku yang masih mempertahankan budaya dan adat istiadatnya di Indonesia. Suku Makassar yang tergolong kedalam suku Melayu Deutro, berasal dari kata”Mangkasarak”yang berarti yang menampakkan diri.
Suku Makassar, hubungan kerabat merupakan aspek utama, baik dinilai penting oleh anggotanya maupun fumgsinya sebagai struktur dalam suatu tatanan masyarakat. Pengetahuan mendalam tentang prinsip prinsip kekerabatan sangat penting bagi orang Makassar untuk membentuk tatanan sosial mereka. Aspek kekerabatan tersebut termasuk perkawinan, karna dianggap sebagai pengatur kelakuan manusia yang bersangkut paut dengan seksnya dan kehidupan rumahtangganya. Selain itu perkawinan juga berfungsi untuk mengatur ketentuan akan harta gengsi sosial dan lebih penting lagi adalah memelihara hubungan kekerabatan
Suku Makassar memaknai perkawinan berarti Siala’ atau mengambil satu sama lain, jadi perkawinan merupakan ikatan timbal balik. Pihak pihak yang mereka akan menjadi mitra dalam menjalani kehidupannya. Perkawinan dalam adat Makassar merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia, suatu perkawinan tidak hanya merupakan peristiwa yang dialami oleh dua individu berlainan jenis, melibatkan berbagai pihak, baik kerabat keluarga maupun kedua mempelai lebih dalam lagi perkawinan melibatkan kesaksian dari anggota masyarakat terhadap bersatunya dua orang individu dalam ikatan perkawina 1
Guna memahami budaya Makassar dan cara cara mereka melaksanakan budaya tersebut yang terkait dengan mitos dan spirit religious, maka dibutuhkan pemahaman terhadap budaya tersebut. Sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat Makassar, merupakan simbolisme dari suku Makassar itu sendiri.
1.2.Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah suku Makassar?
Bagaimana sistem adat suku Makassar?
Apasaja adat istiadat suku Makassar
Ritual apasaja yang biasa di lakukan Suku Makassar?
Bagaimana adat istiadat/tradisi suku Makassar
1.3.Tujuan Penulisan
Tujuan dari di buatnya makalah ini yaitu untuk mengetahui apasaja adat adat suku Makassar dan cara suku Makassar melakukan adat adat tersebut, serta kapan acara adat tersebut di laksanakan
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Suku Makassar
Suku Makassar merupakan sebuah etnis yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Masyarakat Makassar berjiwa penjelajah, pernah begitu berjaya di lautan. Ini terbukti pada abad ke-14 sampai 17, melalui kerajaan Gowa, berhasil membentuk suatu kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar dan kuat dan berhasil membentuk suatu imperium yang berwarnakan islam, mulai dari hamper keseluruhan pulau Sulawesi, Kalimantan bagian timur, sebagian NTT, sebagian NTB, sebagian Maluku, dan pulau pulau kecil di sekitarnya. Suku Makassar juga menjalin traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan kerajaan lainnya yang berada di lingkup nusantara maupun internasional(Khususnya Portugis). Kerajaan ini juga mengalami peperangan yang dahsyat dengan belanda hingga kejatuhannya.
Suku Makassar dikenal sebagai suku yang suka menjelajah lautan, hinggah jauh ke Afrika Selatan. Di Afrika Selatan kini terdapat sebuah daerah yang bernama Maccassar. Diduga penduduk setempat merupakan keturunan campuran antara penduduk asli dan orang Makassar. Sedangkan nama Maccassar diambil dari nama dari tanah nenek moyang mereka dari Makassar.
Makassar dalam bahasa setempat disebut “Mangkasara” yang berarti “Mereka yang bersifat terbuka,” Dan etnis ini tersebar mulai dari kota Makassar, kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, Pangkep, serta wilaya luar Sulawesi Selatan, Seeperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara. Selain itu penyebaran suku Makassar juga banyak di temukan di Kalimantan Timur.
3
2.2.Ritual Adat Suku Makassar
A.Accera’ Kalompoang
Upacara adat Accera Kalompoang adalah salah satu ritual adat yang bersifat sakral, yang sangat diyakini dan dihormati oleh masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan. Upacara yang digelar dirumah adat Balla Lompoa atau istana Raja Gowa ini merupakan upacara ritual adat terbesar sepanjang tahun. Prosesinya sendiri dimulai sejak pemerintahan Raja Gowa ke 14, yaitu Sultan Alauddin, Raja Gowa yang pertama kali memeluk agama Islam. Accera Kalompoang, merupakan acara ritual pencucian benda-benda peninggalan Kerajaan Gowa yang masih tersimpan di Istana Balla Lompoa. Berlangsung selama 2 hari berturut-turut, menjelang dan pada saat Idhul Adha. Ritual allekka je’ne, merupakan upacara mengambil air di Bungung Lompoa (Sumur Agung bertuah yang terletak di daerah Katangka, tepatnya di atas bukit Takabassia). Sesajen berupa bente, atau beras ketan, dupa, lilin, dan daun sirih, turut serta dibawa bersama iring-iringan Dewan adat Kerajaan Gowa, sambil melantunkan paroyong, atau nyanyian kepada Sang Pencipta dan leluhur, para sesepuh adat memainkan alat musik jajjakkang. Alat musik yang terdiri dari kancing, bacing, bulo, dan kaoppo ini merupakan alat musik yang digunakan kalangan raja untuk pesta adat di Gowa. Sesajen mulai ditabur diatas air sumur. Air sumur lalu diambil dengan menggunakan sero, atau timba, yang bahannya terbuat dari daun lontar. Konon, ada tiga sumur disekitar Bukit Tamalatea. Namun dua dari tiga sumur tersebut, telah hilang secara ghaib. Usai mengambil air, rombongan kembali ke istana untuk mengikuti upacara selanjutnya. Yaitu upacar ammolong tedong, atau penyembelihan kerbau, saat matahari pada posisi allabang lino atau pertengahan bumi. Kerbau yang akan disembelih harus memenuhi syarat antara lain jantan, berwarna hitam dan kondisinya prima. Sang kerbau pun diperlakukan secara khusus. Diberi cermin, disisir bulu-bulunya, dan diikatkan kain putih sebagai simbol kesucian. Lalu kerbau diarak keliling istana sebanyak 3 kali putaran. Sebelum prosesi penyembelihan berlangsung, keluarga yang memiliki hajat, melakukan sebuah prosesi, sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Satu persatu para turunan Raja Gowa ini, memecahkan telor, memberi minyak khusus dan mengarahkan uap ke kepala kerbau. Penyembelihan dilakukan oleh seorang sesepuh adat. Darah kerbau ini selanjutnya disimpan di istana. Malam hari, berlangsung upacar appidalleki, yang bermakna, persembehan sesajen kepada leluhur sembari memanjatkan doa syukur kepada Sang Pencipta. Upacara
4
ini hanya untuk kalangan keluarga raja saja. Keesokan Harinya, usai mengikuti shalat Idul Adha, upacara allangiri kalompoang, atau pencucian benda-benda utama pusaka kebesaran Kerajaan Gowa pun dimulai. Ini merupakan puncak upacara dari segala rangkaian acara accera kalompoang. Air bertuah yang diambil dari Bungung Lompoa diletakkan diatas panggung, beserta darah kerbau dan sesajen lainnya. Benda peninggalan Kerajaan Gowa yang berjumlah 13 buah, mulai dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Annyossoro, atau pembersihan mulai dilakukan, Benda-benda pusaka ini lalu diberikan kepada para sesepuh adat yang sudah menanti di atas panggung. Para sesepuh adat mulai mencuci benda-benda pusaka yang terdiri dari, salokoa, atau mahkota Raja, yang memiliki berat 1768 gram, terbuat dari emas murni, dan ditaburi 250 permata, dimana Mahkota ini berasal dari Raja Gowa pertama Tumanurung Baineyya. Benda pusaka lain adalah ponto janga jangaya(Terbuat dari emas murni yang berat seluruhnya 985,5 gram, bentuknya seperti Naga yang melingkar sebanyak 4 buah. Dinamai “Mallimpuang” yang berkepala naga satu dan “Tunipalloang” yang berkepala naga dua, benda ini merupakan benda “Gaukang” {kebesaran Raja} di Gowa dan dipakai pada pergelangan tangan, Benda ini berasal dari Tumanurunga).
Dilanjutkan dengan pencucian tobo kaluku (rante manila dengan berat 270 gram yang merupakan hadiah dari kerajaan Sulu di Philipina pada abad XVI), empat kancing gaukang (kancing emas) dengan berat 277 gram, Tidak ketinggalan benda tajam seperti lasippo berbentuk parang dari besi tua, sudanga berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti atribut raja, berang manurung (parang panjang) dan mata tombok tiga jenis. Atau rantai emas, dan benda-benda pusaka lainnya, yang sering digunakan para raja dahulu kala. Satu persatu benda pusaka dibasuh oleh air Sumur Bungung Lompoa, kemudian diasapi dengan dupa. Upacara diakhiri dengan prosesi attitele, atau pelepasan hajat. Para keturunan Raja Gowa mengambil air dan darah kerbau untuk dibubuhi pada mahkota. Jaman dulu kala, seusai mencuci benda pusaka, masyarakat menunggu proses annimbang, atau menimbang benda-benda pusaka dengan timbangan khusus, konon ketika timbangan Benda-benda Kebesaran itu lebih berat dari tahun sebelumnya maka hal tersebut merupakan suatu pertanda baik bagi Masyarakat Gowa, Sebaliknya jika timbangan Benda Kebesaran tersebut lebih ringan maka hal tersebut merupakan pertanda akan terjadi suatu Musibah di Tanah Gowa/Makassar. Namun karena timbangan itu kini sudah tak ada, sebagai gantinya hanya memanjatkan do’a bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat Kerajaan Gowa. Upacara Accera Kalompoang memang terlihat sederhana, namun dibalik upacara ini mengandung makna yang sangat berarti bagi masyarakat Gowa.
5
Selain mengagungkan Sang Pencipta, menghormati para leluhur dan melestarikan nilai-nilai budaya, upacara ini juga menjadi momentum mempererat tali persaudaraan antara pemerintahan dengan masyarakat. (Suwandy Mardan).
B.Mappalili
Acara adat “Mappalili” yang dipimpin Bissu atau Puang Matoa menandai permulaan musim tanam di Kabupaten Pangkep. Sulewesi Selatan. Upacara adat yang dilakukan turun-temurun diyakini masyarakat setempat sebagai pedoman bagi petani untuk memulai musim tanam padi. Ketika pemerintahan dipegang oleh raja pada zaman prasejarah, bissu dipercayakan menjadi pemimpin upacara adat tersebut, termasuk menentukan penetapan hari pelaksanaannya. Namun seiring perubahan sistem pemerintahan, penetapan hari H upacara adat itu sudah mendapat campur tangan pihak pemerintah.
Setelah ada usulan penetapan Mappalili, lanjut Bissu, pihaknya masih menunggu kesiapan pejabat pemerintah mulai lurah, camat hingga bupati untuk hadir pada kegiatan ritual prosesi tanam padi pada musim hujan yang dilakukan sekali setahun.
Menurut etymology, Mappalili (Bugis) / Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang menggangu dan akan menghancurkannya. Mappalili adalah ritual turun temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Pangkep terutama Mappalili adalah. Bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) / dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.
Menurut bagian 32 bab XV UUD 1945 tentang konservasi kebudayaan nasional, pemerintah Kabupaten Pangkep memberikan penghargaan kepada konservasi dan pelaksanaan upacara Mappalili di setiap tahun atau setiap awal musim budidaya. Pada prosesi pelaksanaan Mappalili memiliki beberapa perbedaan antara satu kecamatan dengan kecamatan lain karena menurut perhitungan dan diskusi dari pemimpin adat (anrong guru / kalompoang) di setiap kecamatan. Tapi ada sesuatu yang akan menjadi dasar utama dari prosesi pelaksanaan dan peralatan yang digunakan tidak bias kalah.
6
Mappalili memiliki sesuatu yang menggambarkan karakteristik dari masyarakat Pangkep sepenuhnya. Pada pelaksanaan pembangunan upacara Mappalili di setiap kecamatan masih menggunakan beberapa peralatan yang digunakan sejak beberapa tahun lalu. Penggunaan peralatan harus melalui ritual adat yang melibatkan leade kustom, sosialita, dan beberapa pemerintah. Oleh karena itu, aktivitas upacara Mappalili di setiap kecamatan dapat berbeda sesuai dengan waktu dan jenis ritual pelaksanaannya.
Mappalili / Appalili dapat disimpulkan sebagai peralatan atau alat pemersatu dan sumber kerja sama maka dapat meningkatkan produksi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelaksanaan Mappalili di Pangkajene kecamatan termasuk Mappalili di kecamatan Minasate’ne. Tempat pelaksanaan rituality di Balla Kalompoang di Jagong. Ini dimulai sejak tahun 1824 sampai 1960, pada masa pemerintahan Muri Andi Daeng Lulu (yang terakhir dari Karaeng Pangkajene sejak pemerintah dengan penunjukan Karaeng diubah menjadi penunjukan kecamatan).
Setelah beberapa tahun tidak aktif, sehingga pusat kegiatan Mappalili dipusatkan di Pacce’lang dan aktif sampai sekarang. Mappalili di Balla Kalompoang digelar selama lima hari, tetapi dengan pertimbangan waktu dan biaya, sehingga diselenggarakan selama dua hari hanya tanpa mengurangi nilai dan makna budaya.
Prosesi upacara Mappalili sebagai berikut:
Hari pertama
Pukul 11.30 attangngallo, suara drum tradisional di Pacce’lang.
Pada 17.30 menuju Maghrib, Assa’ra Allo dengan drum tradisional.
Pada 20.00 setelah sholat Isya, diisi dengan pertunjukan masyarakat, mereka Attoeng (gadis-gadis memakai baju bodo) dan tari Pakarena Bura’ne. Dalam hal ini, disajikan kue tradisional dan malam tanpa tidur.
Hari kedua
Setelah doa Subuh, penyusunan Mappalili dilakukan dengan Pinati (sanro / perias pengantin) dengan didampingi oleh drum tradisional untuk mengumpulkan personil Palili yang memiliki anggota 41 orang. Tentang pada 05:30, para rombongan dari Palili pergi ke sawah Kalompoang di Pacce’lang. Rombongan dipimpin oleh Pinati Male. Urutan Mappalili rombongan sebagai berikut.
7
Bendera Kerajaan Siang dengan lainnya 4 bendera, ada
Bendera hitam - (labolong) anrong appaka.
Bendera merah - untuk Barani risibatua.
Bendera kuning - Bendera rilesang.
Bendera hijau - Pabbicara risengkae bendera.
6 tombak
Beras
Pinati
1 set alat pabrik
2 kerbau
Masyarakat
Setelah dari lokasi Palili, para rombongan dari Palili makan bersama dengan songkolo porsi Palopo na. Ada dua Pinati, satu Pinati Pria dan yang lainnya Pinati Wanita. Pinati dipilih berdasarkan diskusi masyarakat. Mereka memiliki tugas yang berbeda, Pinati Pria mengelola penyusunan dan pelaksanaan Mappalili, dan Pinati Wanita mengelola konsumsi.
Setelah acara Mappalili digelar oleh pihak bissu kerajaan, masyarakat setempat barulah menanam padi di sawah. Hal itu sudah turun-menurun dilakukan. Masyarakat meyakini itu. Kalau ada yang melanggar atau mendahului menanam padi sebelum acara adat digelar, biasanya mendapat bala atau tanamannya puso.
Acara adat Mappalili yang digelar selama tiga hari, diawali dengan acara “atteddu arajang” atau membangunkan alat pembajak yang bertuah, kemudian “arajang ri’alu” atau mengarak pembajak sawah keliling kampong diiringi musik tradisional dan pemangku adat yang menggunakan baju adat.
Puncak acara pada hari ketiga yakni “majjori” atau memulai membajak sawah peninggalan Kerajaan Segeri. Acara tersebut tak kalah meriahnya dengan dua acara sebelumnya. Karena setelah prosesi majjori itu dilakukan, diikuti acara siram-siraman air sebagai bentuk suka-cita oleh pemangku adat dan masyarakat setempat.
Mattedu arajang alias membangunnya benda-benda kerajaan bukan perkara muda. Ada ritual dan harus dilakukan orang-orang tertentu. Presiden sekalipun, tidak bias membangunkan arajang.
8
Yang bias membangunkan hanya Puang Matoa. Waktu yang dipilih untuk mattedu arajang juga melalui perhitungan bugis yakni 9 ompo, 9 temmate dan parallawi atau seimbang antara yang lewat dan datang. Usai mattedu dilanjutkan dengan mappelesso atau membaringkan arajang.
Setelah itu, proses selanjutnya adalah mallekke wae dan labu lalle yakni mengambil air di sungai dan batang pisang lalu dibawa ke arajang di rumah adat. Batang pisang yang diambil harus utuh. “Maknanya ya untuk memandikan arajang”. Setelah itu akan dicari waktu tepat untuk menurunkan arajang ke sawah.
Saat mengarak arajang ke sawah ini sepertinya merupakan momen puncak karena diusung dan diantar 25 orang yang terdiri atas pembawa arajang dan pembawa bendera. Arajang akan diarak dalam proses hikmat dan sakral dari rumah adat ke Segeri, singgah di Sungai Segeri, ke Pasar Segeri lalu dibawa kembali ke tempat peraduannya bermula.
Saat arajang diarak itulah pantangan untuk melintas atau lewat di depan arak-arakan. Zaman dulu, orang yang melintas di depan langsung mati. Kalau sekarang, orangnya langsung jatuh sakit.
Acara Mappalili selama tiga hari tiga malam itu juga dimeriahkan dengan Maggiri ala bissu alias tarian dari para bissu. Tarian tersebut menunjukkan kemampuan kekebalan mereka terhadap benda tajam dengan menusuk beberapa bagian tubuhnya sendiri.
Mappalili adalah upacara mengawali musim tanam padi di sawah. Ritual ini dijalankan oleh para pendeta Bugis Kuno yang dikenal dengan sebutan bissu. Selain di Pangkep, komunitas bissu ada di Bone, Soppeng, dan Wajo. Ritual dipimpin langsung Seorang Bissu Puang Matoa.
Puang Matoa terlihat begitu berwibawa di antara bissu yang berkumpul di rumah arajang, yakni tempat pusaka berupa bajak sawah disemayamkan. Mengenakan kemeja bergaris dengan warna dominan putih, dipadu sarung putih polos dan songkok. Suara santun dan tegas selalu keluar dari mulutnya. Tak ada teriakan sedikit pun. Sebagai pengganti teriakannya, Puang Matoa menggunakan katto-katto, sejenis pentungan yang khusus untuk memanggil anak laki-laki, dan kalung-kalung, nama alat untuk memanggil anak perempuan.
9
Cukup memukul katto-katto tiga kali dan memberi kode. Meski hanya memanfaatkan pelita, para bissu tetap mempersiapkan perlengkapan ritual. Saidi, misalnya,
membentuk simbol-simbol di atas daun sirih menggunakan beras empat warna:masing-masing hitam simbol tanah, merah simbol api, kuning simbol angin, dan putih simbol air. Ahmad Sompo, 43 tahun, Bissu Salassa Mangaji, terlihat membuat pelita dari buah kemiri dan kapas yang dibalutkan pada potongan bamboo. Setelah semua persiapan rampung, upacara pun digelar esok hari.
Mappalili dimulai dengan upacara membangunkan arajang. “Teddu’ka denra maningo. Gonjengnga’ denra mallettung. Mallettungnge ri Ale Luwu. Maningo ri Watang Mpare. (Kubangunkan Dewa yang tidur. Kuguncang Dewa yang terbaring. Yang berbaring di Luwu. Yang tertidur di Watampare),” kata Puang Matoa, melagukan nyanyian untuk membangunkan arajang.
Nyanyian Puang Matoa kemudian disambung suara semua bissu yang terlibat dalam upacara Mappalili. “Tokkoko matule-tule. Matule-tule tinaju. Musisae-sae kenneng. Masilanre-lanre kenning. Musinoreng musiotereng. Musiassaro lellangeng. Mupakalepu lolangeng. Lolangeng mucokkongngie. Lipu muranrusie. (Bangkitlah dan muncul. Tampakkan wajah berseri. Menari-nari bersama kami. Bersama turun, bersama bangun. Bersama saling mengunjungi. Menyatukan tujuan. Negeri yang engkau tempati. Tanah tumpah darahmu).”
Nyanyian membangunkan arajang ada 10 lagu. Secara berurutan, Puang Matoa menyanyikannya, setiap tembangnya diikuti Sembilan bissu yang terlibat dalam upacara. Bagian acara ini disebut mattedu arajang atau membangunkan pusaka berupa bajak sawah. Konon, bajak ini ditemukan secara gaib melalui mimpi. Puang Matoa mengatakan bajak kayu ini sudah ada sejak tahun 1330. Arajang tiap-tiap daerah ini berbeda. Di Pangkep berupa bajak sawah. Di Soppeng berupa sepasang ponto atau gelang berkepala naga yang terbuar dari emas murni. Sedangkan Bone dan Wajo, arajang-nya berupa keris.
Mengingat sudah sangat lama, bajak itu hanya di turunkan saat upacara Mappalili. Adapun tempat penyimpanan bajak tersebut di ikat di atas bubungan arajang. Sebelum di gantung, bajak atau arajang di ikat kain putih polos, dililit daun kelapa kering untuk menguatkan bungkusan nya. Tepat di bawahnya terdapat palakka atau tempat tidur, berisi dupa dan beberapa badik. Tempat arajang itu di kelilingi kain merah polos.
10
Setelah matteddu arajang, dilanjutkan mappaleso arajang atau memindahkan arajang. Bendah pusaka ini dipindahkan ke ruang tamu terbuka, mirip pendopo. Sebelumnya, seluruh pembungkus dibuka. Tepat ditengahnya, bendah ini di baringkan bak jenaza. Ditutup daun pisang, kemudian ujungnya diberi tumpukan beberapa ikat padi yang masih berbentuk bulir. Di atasnya di beri paying. Acara selanjutnya adalah Malleko Bullale atau menjemput nenek.
Penjemputan dilakukan di pasar. Beberapa bahan. Beberapa bahan ritualnya berupa sirih dan kelapa. Selanjutnya dilanjutkan memanjatkan doa di empat penjuru pasar, dipimpin puang upe bissu lolo. Sementara uang upe berdoa, bissu lain menari mengitari bissu lolo dan pembawa sesajen. Dari pasar, rombongan ke sunga mengambil air. Kegiatan ini disebut mallekko wae. Dilanjutkan dengan mappaware sumange atau mengembalikan semangat.
Malam hari tepatnya setelah waktu isya, giliran para bissu memperliatkan kekebalan mereka. Tradisi ini disebut maggiri atau menikam bagian tubuh dengan benda tajam, seperti keris. Sejak soreh para bissu telah mempersiapkan diri. Mereka berdanda semaksimal mungkin agar tampil paling cantik. Tiap bissu didandan dengan warna kostum yang berbeda.
Para bissu duduk mengelilingi arajang. Dipimpin puang matoa, mereka mengucapkan mantra dengan bahasa torilangi atau bahasa para dewata, yang taklain adalah bahasa bugis kuno. Selanjutnya para bissu menarih mengelilingi arajangeng, kemudian mengeluarkan keris yang berada diselipkan di pinggang mereka. Keris ditarik dari sarunya, kemudian di tusuk ke leher, ada juga yang menusuk di perutnya.
Seusai pertunjukan, masing-masing bissu menadahkan sapu tangan, topi, juga kotak. Mereka meminta bayaran dari penonton. Jumlahnya tergantung pemberi. Biasanya bissu yang menjadi idola diberi uang lebih besar. Uang yang diperoleh ini diambil oleh masing-masing bissu. Malam berikutnya, kegiatan maggiri kembali dilakukan. Kali ini jumlah penontonnya jauh lebih banyak dari malam sebelumnya.
Kegiatan terakhir adalah mengarak arajang keliling kampung. Ini menjadi aba-aba bahwa waktunya untuk turun membajak sawah. Selain berkeliling kampung, arajang dibawa ke tengah sawah yang sekarang sudah menjadi kawasan empang. Arajang disentuhkan ke tanah, lengkap dengan sesembahan, termasuk menyembelih ayam, yang merupakan bagian dari sesembahan.
11
Pada saat mengarak, setiap warga yang dilewati bisa menyiramkan air ke rombongan pengarak arajang. Kegiatan ini merupakan bentuk permintaan hujan kepada Sang Pencipta. Tapi sayang, ritual budaya ini hanya dipandang sebelah mata. Ini terlihat dari partisipasi warga yang mulai menurun. Bahkan sebagian warga menjaili dan mengolok-olok para bissu. Beberapa orang malah menyiapkan air comberan untuk disiramkan kepada bissu. Bahkan ada yang sengaja mencampurkan air siraman itu dengan kotoran sapi.
Tak hanya bissu¸ tapi semua orang yang ikut juga disiram. Kami yang sekedar menyaksikan dan mengambil gambar ritual ini juga kena air, tidak melihat ponsel atau kamera yang kami bawa. Setelah diarak, arajang dibawa kembali. Sebelum dikembalikan ke bubungan atas rumag, arajang terlebih dahuku dibersihkan atau dimandikan. Air bekas mandian arajang ini ramai-ramai ditadahi warga yang menunggu di kolong rumah panggung. Mereka percaya air ini berkhasiat sebagai obat.
Seperti halnya di Pangkep, di Soppeng setiap tahun mengeluarkan arajang berupa sepasang gelang emas berkepala naga. Acara ritualnya disebut Masappo Wanua atau memagari negeri, yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan. Acaranya relative singkat, hanya setengah hari. Arajang juga diarakkeliling kampung, tapi tak berjalan kaki lagi seperti dulu. Mereka sudah memanfaatkan kemajuan, yakni menggunakan mobil.
Kepala Pusat Penelitian Budaya dan Seni Etnik Universitas Negeri Makassar Halilintar Lathief mengatakan ritual yang dijalankan oleh para bissu telah mengalami pergeseran. Seperti ritual Mappalili. Dulu sangat meriah dan hikmat, bisa berlangsung 40 hari 40 malam. Tapi, sejak 1966, acara lebih sederhana dan hanya berlangsung 7 hari 7 malam. Sekarang tinggal tiga hari tiga malam.
Mappalili pada masa lampau sangat meriah, menurut Halilintar, karena upacara ritual ini dipelopori oleh kaum bangsawan dan hartawan Bugis. Walaupun tidak memerintah secara nyata dalam kerajaan, bissu menganggap kedudukan mereka lebih tinggi daripada raja karena merekalah yang memegang kutika (kitab ramalan) untuk menentukan hari baik dan hari buruk. Selain itu, bissu bertugas menghubungkan dunia nyata dengan dunia para dewa yang tidak tampak. Mereka adalah penasihat raja dan dewan adat. Petuah dan petunjuk-petunjuk mereka selalu diikuti oleh para penguasa untuk menjalankan kebijaksanaannya.
12
Saat kerajaan-kerajaan Bugis masih Berjaya, seluruh pembiayaan upacara dan keperluan hidup komunitas bissu diperoleh dari hasil galung arajang atau sawah kerajaan. Tak hanya itu, bissu juga memperoleh sumbangan dari dermawan, seperti pedagang, kaum tani, dan bangsawan, yang datang secara rutin untuk memberikan sedekah.
Sawah kerajaan yang diserahkan pada bissu sekitar 5 hektar. Menurut Puang Matoa Saidi, seorang bissu, hasil sawah inilah yang dipakai untuk membiayai upacara dan kebutuhan hidup komunitas bissu selama setahun. Tapi, sejak Sanro Barlian (Beddu), puang matoa bissu Segeri generasi ketiga, meninggal pada 1979, tanah adat arajang diambil alih dan dikuasai oleh pemerintah sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Pokok Agraria 1960. Akibatnya, nasib para bissu makin terpuruk. Para bissu harus mencari pekerjaan yang bisa menghidupi mereka, juga mendanai upacara. Padahal sekali upacara bisa menelan dana Rp 17 juta.
Beruntung, Saidi punya pengetahuan dan kemampuan berbahasa Torilangi atau bahasa Bugis Kuno. Berkat kemampuannya inilah, ia terpilih sebagai salah satu actor dalam pementasan naskah I Lagaligo, yang berskala internasional. Keterlibatannya inilah yang membawanya keliling dunia. Dan ia mempunyai dana cukup menopang perekonomian sebagai puang matoa.
C. Suru Maca
Suru Maca merupakan kegiatan membaca doa secara bersama untuk dikirimkan kepada para leluhur. Ritual ini dilakukan saat menjelang bulan Ramadhan, biasanya selama sepekan sebelum bulan Ramadhan. Konon, ritual ini sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Bugis-Makassar dan sampai saat ini pun masih terjaga.
Selain mengirimkan doa, tradisi Suru Maca ini pun menjadi sebuah penghormatan kepada leluhur yang telah tiada dan sebagai cara untuk membersihkan jiwa dan rohani sebelum melaksanakan ibadah puasa. Saat Kamu traveling ke Makassar saat menjelang puasa, Kamu juga bisa mengikuti tradisi ini.
Dalam tradisi Suru Maca ini, tersedia juga beragam makanan tradisional khas Bugis-Makassar. Jenis makanan yang menjadi hidangan adalah opor ayam, ayam goren tumis, dan nasi ketan dua warna yang disebut songkolo palopo.
13
Biasanya makanan-makanan itu diletakkan di atas terpal atau di atas tempat tidur. Setelah itu salah satu tokoh agama memimpin doa dengan membacakan ayat-ayat suci Al-quran.
Uniknya, selain menyajikan makanan, mereka juga menyajikan unti tekne (pisang raja) disertai dupa-dupa juga. Mereka percaya bahwa pisang raja yang disajikan bisa menjadi simbol manis. Harapannya agar para pemilik rumah mendapatkan manisnya kehidupan, seperti bertetangga dan berumah tangga.
Selain itu dupa yang Kamu jumpai menjadi sebuah simbol harum yang dipercaya agar pemilik rumah namanya harum di tengah masyarakat.
Makanan yang sudah tersedia itu akan disantap bersama-masa. Beberapa anggota keluarga dan kerabat berkumpul bersama merayakan tradisi ini. Jika Kamu sedang traveling ke sana, Kamu juga bisa ada di tengah-tengah mereka.
D.Mappadendang
Mappadendang(Pesta Panen Adat Bugis)Sulawesi-Selatan. Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta pasca panen pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang maha kuasa. Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam rangka besar-besaran. Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya. Orang-orang akan berkumpul di suatu tempat (biasanya di tangah sawah) unruk melakukan penumbukan gabah secara besama.
Mappadendang sendiri bukan hanya mengenai pesta pasca panen tapi juga memiliki nilai magis tersendiri. Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya. Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah.
Mappadendang merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat bugis sejak dahulu kala. Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama. Pesta adat itu diselenggarakan dalam kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau. Pada dasarnya mappadendang berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padiKomponen utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional yaitu baju bodo
14
Acara mappadendang akan dimulai dengan penampilan tari mappadendang. Dalam tarian ini para pria akan menumbuk alu kosong dengan irama tertentu. Setelah itu para wanita akan menari diiringi musik atau kecapi. Penari pria akan menggunakan lilit kepala serta berbaju hitam, seluar lutut kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak. Sedangkan para wanita wajib menggunakan baju bodo, baik saat menari maupun saat menumbuk alu.
Alat yang digunakan dalam Mappadendang seperti:
Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm Bentukesungnya mirip perahu kecil (jolloro; Makassar) namun berbentuk persegi panjang.
Enam batang alat penumbuk yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, kira-kira panjangnya setengah meter.
Tata Cara Mappadendang,
Biasanya Komponen utama dalam mappadendang terdiri atas enam perempuan, 4 pria, bilik baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional, baju bodo. Mappadendang mulanya gadis dan pemuda masyarakat biasa. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut pakkindona. Kemudian pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar dari anyaman bambu yang disebut walasoji.
Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lensung ini atau mappadendang dipimpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman. Sedangkan menumbuk di badan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya.
Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Isi lesung yang ditumbuk berisi dengan gabah atau padi ketan putih/hitam (ase punu bahasa bugis) yang masih muda dan biasanya kalau musim panen tidak dijumpai lagi padi muda, maka biasanya padi tua yang diambil sebagai pengganti,
15
akan tetapi sebelum ditumbuk padi itu terlebidahulu direbus selama 5 sampai 10 menit atau direndam air mendidih selama 30 menit kemudian di sangrai dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat tanpa menggunakan minyak dengan memakai api dari hasil pembakaran kayu.
Di Makassar dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktivitas ini. Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. “Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan,” kata Ali yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati. Selain di Makassar mappadendang juga dilakukan diberbagai daerah lainnya. Seperti di baru, pare-pare, pinrang, dan lain-lain. Walaupun beberapa daerah menyebut mappadendang dengan nama yang sama, tak jarang rangkaian acara yang mereka lakukan berbeda. Seperti yang dilakukan masyarakat pinrang yaitu menghadirkan permainan untuk anak-anak mereka. Namun, tentu saja inti acara dan tujuan dilakukannya mappadendang disetiap daerah sama.
Rangkaian acara mappadendang dilakukan dengan memanggil ibu-ibu dari tetangga rumah untuk menumbuk padi. Kadang ketika tengah menumbuk padi tak jarang para Ibu menyanyikan lagu secara besama.Jika para Ibu menumbuk gabah maka anak-anak mereka akan berkumpul dan bermain bersama. permainan yang biasa mereka mainakan yaitu, gasing, maggoli, makkanto', mangenja', dan maddoa. Diantara permainan-permainan tersebut maddoalah yang paling unik dan menjadi salah satiu rangkaian acara mappadendang. Maddoa adalah jenis permainan yang menyerupai ayunan tapi memiliki tali ayunan yang tinggi. Biasanya ayunan untuk maddoa tersebut digantung diranting pohon yang tinggi. Setelah itu, orang-orang akan melanjutkan acara dengan mandre atau makan bersama untuk menikmati hasil panen mereka. Biasanya makanan hasil panen mereka didampingi dengan beppa pitung rupa atau kue tujuh jenis.
Ketika mappadendang dilaksanakan tak jarang masyarakat dari daerah lain akan datang melihat kegiatan tersebut. Mereka semua akan ikut menari, menumbuk lesung, ikut bermain, ataupun hanya sekadar bertekumpul dengan sanak saudara. Sebenarnya selain untuk menunjukkan rasa syukur kepada tuhan akan keberhasilan hasil panen mappadendang juga dijadikan ajang untuk mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi, memperkenalkan budaya bugis
16
kepada masyarakat, melestarikan budaya bugis, menarik wisatawan, serta memperkenalkan kue-kue tradisional khas bugis.
Rangkaian acara mappadendang biasanya dilakukan dengan memanggil ibu-ibu dari tetangga rumah untuk menumbuk padi. Kadang ketika tengan menumbuk padi tak jarang para Ibu menyanyikan lagu secara besama.Jika para Ibu menumbuk gabah maka anak-anak mereka akan berkumpul dan bermain bersama. permainan yang biasa mereka mainakan yaitu, gasing, maggoli, makkanto', mangenja', dan maddoa. Diantara permainan-permainan tersebut maddoalah yang paling unik dan menjadi salah satiu rangkaian acara mappadendang. Maddoa adalah jenis permainan yang menyerupai ayunan tapi memiliki tali ayunan yang tinggi. Biasanya ayunan untuk maddoa tersebut digantung diranting pohon yang tinggi. Mappadendang merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat bugis sejak dahulu kala. Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama. Pesta adat itu diselenggarakan dalam kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau. Pada dasarnya mappadendang berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padiKomponen utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan
E.Palla Palang
Di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sering membuat lilin dari kemiri menjelang Ramadhan, hari raya Idul Adha, dan Idul Fitri.
Mereka menyebut lilin dari kemiri ini dengan sebutan palla pallang (ada juga yang menyebutnya solung).
Sudah menjadi tradisi sejak zaman dulu, pada malam pertama Ramadhan, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha, anak-anak di Polewali Mandar menyambutnya dengan menyalakan lilin tradisional yang dibuat dari kemiri ini. Konon, api yang dinyalakan adalah lambang keberkahan.
Karena tradisi menyalakan palla pallang ini masih dilakukan, bisanya menjelang Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha, palla pallang banyak dijual di pasar-pasar dan di pinggir jalan.
17
F.Sitobo’ Lalang Lipa’
Prosesi ritual ini dimana kedua pria yang menjadi perwakilan dua pihak ini akan saling menikam. Ritual ini menjadi cara terakhir apabila kedua pihak tidak mencapai kata sepakat. Misalnya apabila mereka menganggap dirinya sama-sama benar. Menurut kepercayaan masyarakat suku Bugis, Sigajang Laleng Lipa kerap terjadi pada masa kerajaan Bugis, saat kedua belah pihak yang berseteru sama-sama merasa benar dan merasa harga dirinya terinjak.
Adapun Sarung dalam Sigajang Laleng Lipa memiliki arti sebagai simbol persatuan dan kebersamaan suku Bugis Makassar. Pertarungan Sigajang Laleng Lipa biasanya dilakukan di lapangan atau tempat tertentu yang kemudian dijadikan sebagai arena.
Cara ini sebenarnya sangat dihindari, karena masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan mengenal sebuah pepatah yang berbunyi, ‘Ketika badik telah keluar dari sarungnya, pantang diselip di pinggang sebelum terhujam di tubuh lawan. Filosofi ini bermakna sebuah masalah dapat dicapai solusi terbaiknya tanpa harus menggunakan kekerasan meski melibatkan dewan adat.
Akan tetapi jika sudah menyangkut harga diri, mau tidak mau biasanya akan ditempuh oleh pihak yang berkonflik. Karena dalam budaya suku Bugis terdapat dua hal yang digenggam erat, yaitu konsep Ade’ yang berarti adat istiadat yang harus dijunjung, Siri atau rasa malu, dan Na Passe yang berarti rasa iba.
Kata Siri punya makna paling kuat dalam budaya masyarakat Bugis. Hal ini terlihat dari sebuah pepatah Bugis yang berbunyi, “Siri Paranreng Nyawa Palao”, yang berarti harga diri yang rusak hanya bisa dibayar dengan nyawa lawannya. Bagi masyarakat Bugis, manusia yang tidak punya siri atau rasa malu bukanlah siapa-siapa, tapi seekor binatang.
Pertarungan Sigajang Laleng Lipa akan memberikan hasil yang imbang, antara kedua pihak meninggal atau kedua pihak sama-sama hidup. Setelah melakukan Sigajang Laleng Lipa, kedua pihak yang bertikai tidak boleh lagi memiliki rasa dendam, dan masalah yang menjadi bahan pertikaian dianggap sudah selesai.
Meski saat ini tradisi Sigajang Laleng Lipa sudah mulai ditinggalkan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan sebagai sarana mencapai kata mufakat, namun tradisi ini tetap dilestarikan dalam bentuk tarian yang dipentaskan di atas panggung.
18
2.3. Pakaian Adat Suku Makassar
Ada beberapa pakaian adat yang di miliki suku Makassar yaitu:
A.Baju Bodo
Kalau kita berbicara baju bodo tentu tidak bisa lepas dari masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Makassar sebagai suku asal baju bodo. Kepopuleran baju bodo di masa lampau membuat banyak suku lain di Sulawesi Selatan yang turut menjadikan baju bodo sebagai pakaian tradisional mereka, misalnya saja suku Bugis, yang kemudian menamainya baju tokko.
Ini karena hegemoni suku Makassar dengan Kerajaannya yaitu Gowa-Tallo sangat besar, dan sebagian besar Sulawesi telah ditaklukan oleh kerajaan tersebut.
Hebatnya lagi, ternyata baju bodo bukan hanya dipakai dan dijadikan pakaian adat di Sulawesi Selatan saja, tetapi juga sampai ke Nusa Tenggara Barat. Tetapi jangan mengatakan bahwa pakaian tersebut baju bodo ya.
Walaupun hampir sama, tetap memiliki perbedaan. Perbedaan itu terletak pada kain sarun yang digunakan, dan beberapa pernak-pernik. Suku di Nusa Tenggara Barat yang memiliki baju adat ataupun baju pengantin yang memiliki persamaan dengan baju bodo khas Makassar adalah Suku Samawa dan Suku Bima.
B.Lipak Sabe
Ciri khas kain tenun Lipaq Saqbe adalah warna-warnanya yang terang atau cerah misalnya seperti warna kuning dan merah dengan desain garis geometris yang lebar. Walaupun memiliki pola yang sederhana, benang emas dan benang perak yang menjadi bahan dasar pembuatan kain sutra ini, menjadikan kain tenun sutra Mandar terlihat istimewa dan indah. Sarung Tenun Mandar ini juga merupakan salah satu produk kain sutra paling halus di Nusantara.
Tidak jauh berbeda dengan Ulos, kain khas suku Batak Sumatera Utara yang hanya boleh digunakan pada saat acara-acara tertentu saja, kain Sutra Mandar ini juga bukan kain sarung yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Sarung ini hanya dipakai pada saat acara-acara tertentu seperti acara pernikahan, upacara adat, upacara keagamaan dan kadang digunakan untuk shalat Jumat di Masjid.
19
Ditinjau dari bentuk motifnya kain tenun lipaq saqbe terbagi atas dua jenis yaitu Bunga dan Sureq. Motif Sureq memiliki garis geometri yang sederhana. Motif ini merupakan motif klasik. Sementara itu motif Bunga adalah perpanjangan dari motif Sureq yang ditambah dengan berbagai dekorasi.
C.Jas Tutu
Pakaian adat untuk kaum laki-laki disebut dengan Tutu. Jenis pakaian ini adalah jas dan biasa disebut dengan Jas Tutu. Pakaian adat ini dipadukan dengan celana atau paroci, dan juga kain sarung atau lipa garusuk, serta tutup kepalanya yakni berupa songkok.
Jas Tutu berlengan panjang dengan leher yang berkerah dan dihiasi dengan kancing yang dibuat dari emas atau perak, yang mana dipasangkan pada leher baju tersebut. Sedangkan untuk kain lipa garusuk atau lipa sabbe terlihat polos namun berwarna mencolok, dengan ciri khas merah dan hijau.
2.4 Alat Musik Tradisional Suku Makassar
Selain baju adat suku Makassar juga memiliki alat musik tradisional seperti:
A.Jalapa
Jalappa (Jalapa) adalah alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan. Alat ini berbentuk seperti Simbal yang terbuat dari logam kuningan. Tidak berlaku umum, alat musik ini dimainkan pada saat upacara adat tertentu. Nama alat musik tradisional Sulawesi Selatan mempunyai nama lain, yaitu dibeberapa daerah lebih dikenal dengan sebutan Kancing-Kancing karena bentuknya yang menyerupai Kancing berukuran besar.
Masyarakat setempat sering memainkan alat musik Jalappa pada saat upacara adat tolak bala . Sebagian dari mereka menggunakannya menjadi bagian dari peralatan dukun di beberapa daerah. Sebelum permainannya, pada umumnya jika pada tarian daerah Sulawesi Tenggara dimulai, alat musik ini terlebih dulu dibacakan mantra-mantra dengan diiringi alat musik lainnya.
20
B.Tolindo/Popondi
Memiliki bentuk unik, alat musik ini terbuat dari bahan kayu berbentuk busur yang bertumpu pada tempurung kelapa utuh. Sedang pada bagian busur, terdapat senar panjang yang akan menghasilkan suara bila dipetik. Mayoritas masyarakat Bugis memeberi nama alat musik ini dengan sebutan Tolindo, sedangkan masyarakat Makassar memberi nama alat musik ini dengan sebutan Popundi.
C.Gandrang Bulo
Alat musik tradisional Sulawesi Selatan yang ini sama seperti Gendang pada umumnya yang tidak memiliki membran. Dimana alat musik klasik ini akan mengeluarkan suara bila ditepuk atau dipukul bagian kulitnya menggunakan telapak tangan.
Bagi masyarakat Bugis, alat musik ini disebut dengan nama Idiokardo, sedangkan pada masyarakat Makassar menyebutnya Gendang Bulo.
D.Keso-Keso
Alat musik Keso-keso merupakan alat musik tradisional Sulawesi Selatan. Ada persamaan dengan alat musik Rebab, akan tetapi jika alat musik Rebab bisa memiliki 3-4 dawai, Keso hanya memiliki 2 dawai saja.
Untuk memainkan alat musik masa lalu ini, Anda cukup menggesek dawainya, maka akan keluarlah bunyi yang sampai ditelinga. Bagi mereka yang sudah bisa memainkan alat musik Rebab, maka tidak akan mengalami kesusahan dalam memainkan alat musik Keso-keso.
E.Suling Lembang
Alat musik khas tradisional yang termasuk berasal dari Sulawesi Selatan ini adalah sebuah alat musik tiup. Karena itu, cara memainkan alat musik Suling Lembang tidak jauh berbeda dengan Suling pada umumnya. Adapun yang membedakannya, Suling Lembang mempunyai ukuran sangat besar, yaitu dengan panjang 50 sampai 100 cm dan diameter 2 cm. Supaya bunyinya bervariasi, Suling lembang dilengkapi dengan lebih dari 8 lubang nada.
21
F.Puwi-Puwi
Yang ini adalah alat musik Puik-Puik yang dikenal juga sebagai alat musik dari Sulawesi Selatan. Persis terompet, bentuk dan cara memainkan alat musik ini sama persis dengan terompet yang ada didaerah lain
G.Rebana
Banyak daerah mengklaim bahwa alat musik Rebana berasal dari daerahnya, termasuk propinsi Sulawesi Selatan. Hanya saja terkait dengan penyebetan masung-masing daerah memiliki perbedaan. Terbang Rebana adalah sebutan bagi masyarakat Bugis, sedang Terbang adalah sebutan bagi masyarakat Makassar.
Sederhananya, alat musik ini merupakan alat musik Gendang yang menggunakan membran. Kayu adalah bahan untuk membuatnya, baik dari kayu cendana, pohon nangka, pohon kelapa dan kayu jati.
H.Bassi-Bassi
Basi-Basi termasuk sebagai alat musik tradisional Sulawesi Selatan. Nama lainnya adalah Klarinet menurut masyarakat Makassar, sedang menurut masyarakat Bugis adalah Basi-basi. Alat musik ini merupakan alat musik tiup yang didalamnya terdapat membran rangkap.
Dalam berbagai acara adat di Sulsel, biasanya alat musik zaman dahulu ini dimainkan, seperti untuk acara pesta, perkawinan dan syukuran.
I.Kacapi
Kacaping adalah alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik. Kacaping memiliki 2 dawai yang dikaitkan pada kayu berbentuk seperti perahu. Konon, alat musik Kacaping ini pertama kali ditemukan oleh seorang pelaut Bugis.
Pada acara-acara adat seperti upacara pernikahan, penjemputan tamu, atau saat bersenda gurau dengan keluarga alat musik ini dimainkannya. Nama lain dari Kacaping adalah Kecapi.
22
J.Alosu
Alat musik Alosu sangat unik bentuknya, yakni berupa sebuah kotak anyaman yang di dalamnya diisikan banyak biji-bijian atau batu kecil. Berbeda dengan alat musik lain, alat musik tadisional Sulawesi Selatan ini dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan
K.Ana’Becing
Berdasarkan informasi yang didapat, Ana’ Becing terbuat dari logam dan dimainkan dengan cara dipukulkan satu sama lain. Mempunyai bentuk yang unik, yaitu menyamai sepasang dayung membuat alat musik ini cukup dikenal, terlebih karena sering dimainkan dalam pertunjukan seni musik karnaval atau parade pesta serta upacara adat pada zamannya.
2.5 Kue Tradisional Suku Makassar
Ada beberapa jenis kue yang bias din temukan di Makassar antaralain:
A.Kue Baruasa
Kue baruasa ini termasuk kedalam jajaran kue kering yang merupakan ciri khas dari daerah Bugis, Makassar. Masyarakat Bugis biasa menyantap kue baruasa ini saat acara perayaan hari keagamaan atau saat menyelenggarakan pesta pernikahan. Kue berbentuk bulat ini terbuat dari bahan dasar tepung beras dan kelapa parut yang disangrai. Terdapat dua varian rasa, yang menggunakan campuran gula merah atau gula pasir (original). Kudapan yang memiliki cita rasa manis dan gurih ini sangat cocok sekali bila disantap bersama kopi susu atau teh hangat.
B.Jalangkote
Serupa tapi tak sama, banyak yang mengira jajanan pasar khas kota angin mamiri ini adalah pastel. Bagian kulit untuk membungkus jalangkote pun jauh lebih tipis ketimbang pastel. Selain itu dari segi isiannya juga berbeda, kalau umumnya pastel hanya berisi potongan kentang dan wortel, jalangkote memiliki isian yang lebih beragam seperti wortel, kentang, tauge, dan laksa yang ditumis bersama lada, bawang merah, dan bawang putih. Keistimewaan dari jalangkote ini terletak pada sambal pendampingnya yang terbuat dari campuran cuka, gula merah, bawang putih dan cabai.
23
C.Putu Cangkir
Kudapan manis yang terbuat dari bahan sederhana berupa tepung beras ketan dengan campuran gula merah dan kelapa ini memiliki bentuk yang sangat lucu dan unik. Jika berkunjung ke kota Makassar, akan sangat mudah untuk menemukan penjual kue putu cangkiri ini. Rasanya yang manis dan gurih, kue putu ini cocok sekali bila dijadikan sebagai hidangan penutup atau camilan di sore hari.
D.Dange
Kue dange merupakan jajanan tradisional khas daerah Pangkep, Makassar yang sudah sangat sulit dijumpai. Dulu sekali kue ini sempat dijadikan sebagai makanan pokok, lho! Kue ini termasuk kedalam jajaran kue basah yang memiliki cita rasa manis legit dan juga gurih.
Kue dange ini terbuat dari olahan tepung ketan hitam dengan campuran kelapa parut, gula merah, dan garam..
E.Kue Baje’
Kue yang satu ini dapat kamu jumpai di pasar tradisional yang ada di Makassar. Sama seperti kue tradisional khas Makassar lainnya, kue ini masih menggunakan bahan dasar berupa tepung beras ketan dengan campuran gula merah dan parutan kelapa. Para wisatawan selalu menjadikan kue baje ini sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang kerumah.
F.Buroncong
Jika tidak tahu, mungkin sebagian orang akan mengira kalau buroncong ini adalah kue pukis. Kue yang merupakan primadona di kota Makassar ini selalu menjadi camilan favorit warga lokal maupun pendatang. Kue dengan tekstur lembut ini terbuat dari tepung terigu, garam, santan, gula, dan yang paling utama adalah parutan kelapa.
24
G.Cucuru Bayao
Sama seperti kue dange, cucuru bayao juga merupakan kue yang berasal dari daerah Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan. Telur dan gula pasir adalah bahan dasar untuk membuat cucuru bayao ini. Kue tradisional dengan cita rasa yang super manis ini identik sekali dengan pesta pernikahan.
Cara penyajiannya pun terbilang unik. Selesai dikukus kue tersebut tidak bisa langsung dinikmati, melainkan harus direndam dulu kedalam air gula
2.6 Makanan Khas Suku Makassar
Selain kue ada juga makanan khas dari suku Makassar antaralain adalah:
A.Coto Makassar
Coto Makassar atau juga dikenal dengan nama coto mangkasara merupakan makanan yang dibuat menggunakan daging dan juga jeroan sapi. Bahan tersebut direbus dalam waktu lama yang kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu lainnya.
Biasanya, Coto Makassar disantap dengan ditemani oleh Burasa, makanan khas yang mirip lontong namun bentuknya agak pipih dan dimasak dengan cara khusus.
B.Pallubasa
Pallubasa juga merupakan makanan khas Makassar yang sangat populer dan banyak orang yang menyukai masakan yang satu ini. Hampir mirip dengan coto Makassar, Pallubasa juga makanan berkuah yang menggunakan olahan daging sapi.
Pallubasa juga ada yang menggunakan jeroan sapi. Namun kamu bisa memilih untuk memakan makanan ini yang hanya menggunakan daging saja. Selain itu pallubasa juga biasanya disajikan dengan tambahan kuning telur untuk menambah kelezatannya.
C.Konro
Rasa yang kuat dari kuah berwarna hitam tersebut muncul karena makanan ini dimasak menggunakan kluwek seperti yang biasanya digunakan untuk memasak rawon. Kamu pastinya bakal ketagihan setelah mencicipi makanan yang satu ini. 25
D.Sop Saudara
Sop Saudara adalah makanan khas Makassar yang juga sangat segar untuk disantap. Hidangan ini menggunakan bahan berupa daging sapi dan jeroan seperti hati dan paru. Selain itu sop saudara juga menggunakan bahan lain seperti bihun dan perkedel.
Biasanya makanan khas ini dihidangkan bersama dengan ikan bakar atau telur rebus. Untuk menambah kenikmatan sop saudara, kamu bisa menambahkan sambal karena hidangan ini juga enak dinikmati dengan rasa pedas.
E.Mie Titi
Mie titi adalah mie basah yang dimasak dengan cara digoreng sehingga menjadi kriuk. Kemudian mie kering tersebut disiram dengan kuah kental yang sangat lezat yang membuat mie titi ini memiliki rasa yang gurih.
2.7 Tarian Tradisional Suku Makassar
Selain seni musik, di Makassar (ibukota Sulsel) terdapat banyak peninggalan sejarah berupa tarian daerah dan seni rupa. Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, ada sekitar belasan jumlahnya. Hampir sama dengan tarian daerah Sulawesi Barat dan tarian daerah Sulawesi Tenggara. Jika diamati dengan seksama, terdapat perbedaan dan persamaan dari masing – masing yang mencerminkan ciri khas.
Tarian adat Sulawesi Selatan adalah perpaduan dari unsur – unsur tari berupa gerakan, musik, lighting dan tata busana yang dipakai oleh para penari. Perpaduan itu mengabarkan pesan tentang cerita kebiasaan masyarakat di masa lalu. Seperti ada tarian yang menceritakan tentang perang, ekspresi kegembiraan masyarakat dan penyambutan tamu.
A.Tari Pakuru Sumange
Tarian Pakkuru Sumange ialah tarian khas Soppeng yang berasal dari Sulawesi Selatan. Sumange mempunyai arti sukma. Dan jika diartikan Pakkuru Sumange artinya ‘memanggil sukma’. Bersimbol tentang kehidupan, tarian ini berharap agar damai kehidupannya, tenang banyak rezekinya, diberkahi Tuhan.
26
Pada umumnya, tarian ini dipentaskan sebagai tarian adat untuk menyambut tamu yang menggambarkan salam sejahtera bagi tamu yang datang dan tuan rumah serta mohon doa restu, lambang persahabatan dan keakraban.
B.Tari Kipas Pakkarena
Tari Kipas Pakarena berasal dari daerah Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya daerah Goa. Dengan memainkan kipas, tarian ini dibawakan oleh para penari wanita dengan berbusana adat dan menari dengan gerakannya.
Berlaku umum, tari Kipas Pakarena ini sering ditampilkan di berbagai acara yang bersifat adat maupun hiburan. Sebuah terobosan yang patut diapresiasi bahwa Tari Kipas Pakarena ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Gowa.
Pada pertunjukannya, Tari Kipas Pakarena biasanya ditampilkan oleh 5 sampai 7 orang penari wanita. Para penari berbusana berbusana adat dan diiringi musik pengiring yang dimainkan dari alat musik tradisional Indonesia yang sering disebut dengan Gondrong Rinci.
C.Tari Pattennung
Tari Patenung adalah tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan yang menggambarkan wanita-wanita tampak sedang menenun. Pesan yang disampaikan lain yaitu sikap sabar dan tekun serta gigih para perempuan Toraja Sulawesi Selatan dalam menenun benang menjadi kain.
Penari memakain pakaian adat khas Sulawesi Selatan yaitu berupa baju Bodo Panjang, Lipaq Sabbe (sarung), Curak Lakba, serta hiasan Bangkara, Rante Ma’bule, Ponto yang digunakan. Terkait dengan properti, mereka memakai sarung lempar.
Saat pertunjukkan, Tarian Pattennung ini diiringi oleh instrumen alat musik tradisional Suling dan Gendang.
D.Tari Ma’Gellu
Tarian Ma’gellu termasuk menjadai tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan. Pada awalnya dikembangkan di Distrik Pangalla’, sekitar 45 km ke arah Timur dari kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara.
27
Pada umumnya, tarian ini dipentaskan dalam acara upacara adat khusus yang disebut Ma’Bua’, yang berkaitan dengan upacara pentasbihan rumah adat Toraja/Tongkonan, atau keluarga penghuni tersebut telah melaksanakan upacara Rambu Solo’ yang sangat besar (Rapasaan Sapu Randanan).
Waktu berjalan, kini tarian Ma’gellu’ juga dipertunjukkan di upacara kegembiraan seperti pesta perkawinan, syukuran panen, dan acara penerimaan tamu terhormat dari luar daerah
E. Tari Pa’Pangngan
Tarian Pa’pangngan adalah tarian tradisional Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh gadis-gadis cantik memakai baju hitam atau gelap dan menggunakan ornamen khas Toraja seperti kandaure.
Arti dari Pangngan Ma adalah menari saat menerima tamu-tamu terhormat yang menyambut dengan kata-kata Tanda mo Pangngan mali’ki.
Kata Panggan sendiri berarti sirih. Yakni kata-kata dan penawaran sirih menunjukkan nilai ditempatkan pada kunjungan dan menegaskan bahwa para tamu telah diterima dan sekarang dianggap sebagai bagian dari masyarakat Toraja.
Masing-masing penari memegang sirih (pangngan) sebagai penawaran secara simbolis. Sirih ditempatkan dalam kantong di depan mereka. Dan kantong tersebut dikenakan oleh wanita lanjut usia (lansia) kebanyakan di desa-desa dan mengandung bahan untuk sirih mengunyah sirih pinang campuran.
F.Tari Gandrang Bulo
Tari Gandrang Bulo merupakan tarian dari daerah Sulawesi Selatan. Tarian ini dinyatakan sebagai salah satu simbol penting bagi masyarakat Makassar. Ketika ada pesta rakyat, biasanya ditampilkanlah tarian ini.
Kata Gandrang Bulo berasal dari dua kata, yaitu “Gandrang” mempunyai arti Tabuhan atau pukulan dan “Bulo” yang meiliki arti Bambu. Yang membedakan dengan tarian lain, diselipkan berbagai humor yang membuat para penontonnya tertawa ketika dipentaskan. Catatan penting bagi penari yang akan membawakannya, yaitu harus terlihat bahagia.
28
Awalnya Ganrang Bulo cuma tarian yang diiringi oleh alat musik Gendang. Namun seiring berjalannya waktu, tarian ini diiringi pula lagu-lagu Jenaka dan dialog-dialog humor serta sarat kritik dan ditambah gerak tubuh yang mengundang tawa orang yang melihatnya.
G.Tari Bosara
Tari Bosara adalah tarian daerah yang berasal dari Sulawesi Selatan. Tarian ini ditampilkan dalam rangka menyambut tamu kehormatan. Pada zaman dahulu, Tari Bosara ditampilkan pada acara penting untuk menjamu raja-raja dengan suguhan kue-kue tradisional.
Selain untuk menyambut tamu raja, tarian Bosara juga ditampilkan pada berbagai pesta seperti pesta perkawinan dan acara khitanan.
Memaknai kata bosara yakni menunjukan pada satu kesatuan utuh yang terbagi dalam piring, yang di atasnya di beri alas kain rajutan dari wol, lalu ditempatkan piring di atasnya juga sebagai tempat kue dan tutup bosara. Adapun kue-kue yang umumnya disajikan dengan memakai bosara merupakan kue-kue tradisional, baik kue basah atau kue kering. Kue basah semisal cucur, bolu peca’, brongko, biji nangka, kue lapis, kue sala’ dan lain-lain, yang biasanya terbuat dari tepung beras.
2.8 Istilah Adat Istiadat Suku Makassar
Bahasa Makasar, adalah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan, yaitu oleh suku Makasar. Bahasa ini masih berkerabat dengan bahasa Bugis dan bahasa Toraja.
Bilangan
. 0 nolo'/kosong/lobbang
. 1 se're
. 2 rua
. 3 tallu
. 4 appa'
. 5 lima
29
. 6 annang
. 7 tuju
. 8 sagantuju/sangantuju
. 9 salapang
. 10 sampulo
. 11 sampulos se're
. 12 sampulong rua
. 13 sampulong tallu
. 14 sampulong ngappa
. 15 sampulong lima
. 16 sampulong ngannang
. 17 sampulong tuju
. 18 sampulos sagantuju/sampulong sangantuju
. 19 sampulong salapang
. 20 ruampulo
. 21 ruampulos se're
. 100 sibilangngang
. 101 sibilangngang asse're
. 102 sibilangngang anrua
.
. 1000 sisabbu
. 1001 sisabbu asse're
. 1002 sisabbu anrua
30
Arah
. timur rai' / raya
. barat lau' / kalau'
. utara warak
. selatan timborang
Sebutan Keluarga
. ibu/induk anrong / amma'
. ayah mangge / tetta
. anak ana'
. kakak daeng
. adik andi
. saudara saribbattang
. sulung battoa / kaminang toa
. bungsu bungko / kaminang lolo
. kakek dato' / bapa' toa
. nenek dato' / amma toa / nene'
. buyut nene' kolantu
. cucu cucu
. cicit cucu kolantu
. cucunya cucu cucu pala' bangkeng
. mertua matoang
. menantu mintu
. suami bura'ne
. istri baine / turiballaka
31
. ipar ipar = ipara
. keluarga kalabine
. kerabat bija
. sepupu sampo
. sepupu satu kali cikali / sampo sikali
. sepupu dua kali pindu' / sampo pinruang
. sepupu tiga kali pinta' / sampo pintallung
. paman / bibi purina
. paman unda
. tante bonda
. ponakan kamanakang
. sekampung sambori'
Warna
. kuning kunyi / didi
. kuning tua didi bayao
. hijau moncong bulo
. hijau muda moncombulo cui / bombong unti
. hijau tua moncong bulo tai tedong
. biru gawu
. biru muda kondo-kondo
. merah eja
. merah cerah cella pili
. pink lango-lango
. oranye eja cui-cui
32
. ungu muda rappo to'no'
. ungu longkolame / lamebutung
. coklat sikola'
. putih kebo`
. hitam le'leng / bolong
. hitam pekat kallang
Selain itu juga ada kata-kata yang bisa dikombinasi dgn warna-warna di atas:
. cerah cora
. terang singara'
. muda lolo
. tua toa
. gelap sassang
. kusam jappo’
Misalnya:
. biru tua gau toa
. merah gelap eja sassang
. ungu muda longkolame lolo
. putih kusam kebo' jappo'
Kamus Makasar Menurut Abjad
. abdi ata
. abis / habis labbusu'
. debu alimbu'bu
. abjad hurupu'
. acak ta'siara'
33
. ada nia'
. mengadakan a'pa'nia'
. adalah iami
. seadanya iamonjo
. ada' adat
. adalah iamintu
. adzan bang
. adik andi'
. adil adele'
. adu appasiba'ji
. adu ayam appabbate jangang
. ahli tou panrita
. air je'ne'
. air mata je'ne' mata
. air jeruk je'ne' lemo
. kencing je'ne' mea
. air sembahyang je'ne' sambayang
. ajak akkiyo'
. ajal ajjala'
. ajar ajara'
. mengajar anggangajara'
. ajaran ajarrang
34
. pengajar pangngajara'
. pengajaran pappiajarrang/pangngajarakkang
. belajar appilajara'
. pelajaran pappilajarrang
. akad aka'
. akal akkala'
. tidak masuk akal tena antama ri akkala'
. pendek bodo akkala'
. mengakali anngakali
. mencari akal a'boya
. akkala' akkala'
. akan punna
. akar akara'
. akherat ahera'
. akhir labbusu'/riboko
. akil baligh balere'
. akur singai/sipakatau
. akrab sanna singaina/sipa'agadang
. aku nakke/inakke
. alis kannying
. allah alla ta ala/karaeng alla ta ala
. debu alimbu'bu
35
. almarhum tumatea
. amal amala`
. aman amang
. amarah larro
. amat sanna'
. ambruk runtung
. ambil alle
. mengambil angngalle
. mengambilkan angngalleang
. mengambil dari angngalle ri
. pengambilan pangngalleang
. anak ana'
. anda kau (kasar) ikatte (halus)
. aneka a'rupa-rupa
. angin anging
. angkasa rammang
. angus ammutung
. angsur ansuru'
. anjing kongkong
. anjo itu
. anne ini
. antar antara'
36
. antara passingaleng
. antero kabusu'
. apa apa
. ini apa apanne
. apa boleh buat apa pode'/paleng
. tidak apa tena angngapa
. mengapa angngapai
. api pepe'
. korek api colo'
. gunung berapi gunung moncong pepe'
. appau berkata
. apung ngapung
. asal battu
. berasal battu ri
. asap ambu
. asin ce'lai
. asing maraeng
. orang asing to maraeng
. atap tompo'
. atap rumaha tompo' balla
. atas rateang
. dari atas battu rate
37
. atasmu irate nu
. di atas iratena
. ke atas nai'
. atur atoro'
. mengatur angngatoro'
. aturan atorrang
. teratur ta'ataoro'
. awal ri olo
. ayah mangge
. ayam jangang
. ayam betina jangang gana
. ayam jantan angang pallaki
. ayam muda jangang rungka
. ayo (mari/kemari) ambae
B
. belakang boko
. di belakang ri boko
. belalang katimbang
. belang ballang
. belanja balanja
. belantara romang
38
. beli malli
. beliau ri passingalinna
. belut londeng
. benak pikkirang
. benang bannang
. benar annaba
. bengkak akkambang
. benih sessara'
. berbau botto'
. beranda palladang
. berdiri menteng
. berguling anggulung
. bersin purassingang
. besar lompo
. babak baba'
. babak kedua baba' pinruang
. babat tabbasa'
. membabat attabbasa'
. baca baca
. membaca ammaca
. bacaan bacang
. bacok tette'
39
. membacok annette'
. badan kale
. bagai kammai
. bagaikan kammai tongi
. bagaimana antekamma
. sebagaimana kammaya
. bagi bage
. membagi a'bage
. bagus baji'/ga'ga
. bahagia nyammang/annyammang
. sudah bahagia hidupnya annyamammi tallasa'na
. bahak ammakala'
. bahasa basa
. bahasa makassar basa mangkasara'
. baik baji'
. orang baik to baji'
. baiknya baji'na
. memperbaiki appakabajiki
. ada baiknya nia' baji'na
. bajak pa'jeko
. membajak appa'jeko
. bakar tunu
40
. membakar attunu
. terbakar akkanre
. rumah terbakar balla akkanre
. bakul karanjeng
. balik motere'/ammotere' |
. bambu bulo
. bambu runcing bulo cidu'
. ban bang
. bandar bandara'
. bandel bambala'
. bangau kondo
. banget sanna'
. bangkit ammenteng
. bangku bangko
. bangsa pa'rasangang
. bangun menteng/mangung
. bangun tidur ammuriang
. bangun rumah ammangung balla
. banjir a'ba
. bantal pa'lungang
. banting manting
. bantu ammali / ambali
41
. banyak jai
. orang banyak tau jai
. kebanyakan jai dudu
. bapak mangge
. ibu bapak anrong mangge
. barat rinngang
. selatan wara'/warakkang
. utara timboro'/timborang
. timur kalau'
. hangat / panas bambang
. bareng siagang
. baring tinro
. baris barisi'
. membaris a'barrisi'
. baru beru
. orang baru tau beru
. basah basa
. batas batasa'
. batik bate'
. batuk ta'roko
. bau botto'
. bawa ngerang
42
. membawa anngerang
. membawa diri anggerang kale
. membawakan angngeranggang
. bawah rawa
. di bawah irawa
. bawang lasuna
. bayang tau-tau
. bayao telur
. telur rebus bayao le'ba pallu
. bayar bayara'
. bebas lappasa'
. bebek kiti'
. becak beca'/tigaroda
. becek cammara'
. beda maraeng
. bedak ba'ra'
. bedil ba'dili'
. beduk ganrang
. begini kammane
. begitu kammanjo
. begitulah begitumi
. belajar pilajara'
43
C
. cabai lada
. cabik kakka'
. menyabik anngakka'
. cabul lale
. cabut kakka'
. menyabik anngakka'
. cacing gallang gallang
. cahaya singara'
. cair je'ne
. cakap gammra'
. cakrawala langi'
. campur campurang
. canda kakalakara'
. cangkir cangkiri'
. cangkul bingkung
. cantik ga'ga
. capai dodong
. caping saraung
. capung bereng-bereng
. cari boya |
. mencari a'boya
44
. cat ce'
. catat tulisi'
. mencatat annulisi'
. cedera loko'
. cekcok a'besere'
. celah salassara'
. celana saluara'
. cemburu kodi cini'
. cengeng nene
. cengkeh cingki
. cepat inta'
. ceper bodo
. cerah singara ' allo
. cerdas cara'de'
. cerewet calleda'
. cerita carita
. cermin carammeng
. cilik caddi
. cipta pare'
. ciptaan parekang
. cium bau
. mencium a'bau
45
. cocok iya tauwwa/iyo tauwwa/annaba/
. coklat sikolat
. comot akka'
. congkak tampo
. cubit kabbi'
. cuci bissa
. mencuci tangan abbissa lima
. mencuci celana saluara'
. cukai ballo limung
. cukur cukkuru'
. tukang cukur pacukkuru'
. cuma ji
. cuma dua dua ji
. curi lukka'
. mencuri a'lukka'
. pencuri palukka'
. cipok cippo'
. cangkir cangkiri
. capung bereng2
. cicak cacca'
. cuci sassa
. cepat inta'
46
. cemas lussa'
. cermai caramele'
D
. daerah sambori
. dagang balu'
. berdagang a'balu'
. dagangan balukang
. dahaga a'mara kallong
. dahi ubung-ubung
. dahulu riolo
. dalam lalang,
. kedalaman lantang
. damai sannang
. damba ero'
. dan siagang
. dandan a'mode
. dangkal esa'
. dapta gappa
. dapur pappalluang
. darah cera'
. darat butta
47
. dari assala', battu
. datang battu
. datar lappara'
. daun leko'
. debar dumba'
. dekat ammani
. delman bendi
. demam bangbang
. demikian kammanjo
. dengan siagang
. dengar lanngere',
. mendengar allangere'
. dengarkan pilanggeri
. dengkul kulantu'
. dengkur a'moro'
. dengung dangngung
. denyut dumba'
. depan riolo
. deras sarro,
. hujan deras bosi sarro
. derita pacce
. desak iappi'
48
dewa barata
. dialog sipabbicara
. diam sannang
. dinding rinring
. dingin dinging
. dikit sikedde'
. dinihari bari'basa'
. diri kale,
. berdiri ammenteng
. sendiri sikale-kale
. mendirikan appaenteng
. djarum black kaluru' djarum le'leng
. djarum black menthol kaluru' djarum le'leng siagang dinging
. djarum black slimz kaluru' djarum le'leng siagang ca'di
. djarum black slimznation pa'rappungang djarum slimz
. djarum black motodify pa'rappungang nangaiya anggammarri dongkokangna
. dokter dottoro'
. dosa dosa, doraka
. dua rua
. duduk mempo / cidong
49
. duel sibajji
. duga a'bata-bata
. dunia lino
. duri katinting
. dusta balle,
. berdusta a'balle-balle
. dahak karra'
. du2k mempo
. diam sannang
. datang , dari battu
. durian duriang
. dompet dompe
. dua rua
E
. edan pongoro'
. efisien tassike'de'
. egois tinggi ero'
. ejek appa'lila
. ekor inkong
. elak lecceng, a'lecceng (mengelak)
. elok ga'ga
50
. elus puru'-puru'su, purusu'
. emak anrrong, amma'
. emas bulaeng
. emosi larro, pa'larroang (emosional)
. empat appa'
. empedu pai' (juga digunakan untuk kata 'pahit)
. enak assi'pa'
. encer encere'
. endap, mengendap a'dakka-dakka
. endus, mengendus anngara',
. anjing mengendus kongkong anngara
. mencium bau mangga anngara' taipa
. enggan malasa', battala' jappa/battala' ero'
. engkau ikau (kasar), ikatte (halus)
. enteng lomo-lomo
. era wattu
. esa se're
. esok ammuko
. ekor engkong
. ember embere
. enam annang
51
. egois tantang
F
. firasat pa'mai
G
. gadai / pegang ta'ggala
. gagah/ganteng ga'ga/gammara'
. gali kekkese
. galian kekkesang
. menggali a'kkekese
. gantung pasai'
. menggantung appasai'
. garam ce'la
. gatal katala'
. gawang pakkiperang
. penjaga gawang kippere'
. gemuk co'mo'/battala'
. gemuk/grease gommo'
. gencar sarring
. geli gele'-gele'/kaleme'
. genderang ganrang
. geser palette'
52
. gila pongoro'
. gelang ponto
. pergelangan pappontoang
. gemar ngai/angngai
. gogos gogoso
. gombal odo'/ngodo'
. goreng sanggara'
. menggoreng annyanggara'
. gosong/hangus mutung/ammutung
. gua liang
. gugur/jatuh tu'guru/dappe'/nanggala'
. gula golla
. gula pasir golla kassi'
. gula merah golla eja
. gunting goncing/gonting
. menggunting anggoncing
. guntur/petir gunturu'/latte
. gunung bulu'/bonto
. gusar gangrakang/bata-bata
I
. iya iyo
53
. ini anne
. itu anjo
J
. jual balu
. penjual pamalu'
. menjual a'balu
. jengkel ballisi'
. menjengkelkan paka balli'2 si'
. jauh bella
. jalan jappa
. jam jam
. jarum jarung
. jagung biralle
. jenggot janggo'
. jorok rantasa'
. jongkok cengke
. jera jarra
K
. kira-kira / mungkin kutaeng
. kuda jarang
54
. kipas pakkape'
. kupas / mengupas a'bi'bi
. kentang lame2
. kodok tumpang
. kasur kasoro'
. keranjang karangjeng
. knalpot kandang lappo'
. kuku kanuku
. kelepa kaluku
. kepala ulu'
. kecut kacci
. kentut tarattu'
. kumis bulu sumi'
. kuda jarang
. kaki bangkeng
. kursi kadera
. kerupuk karoppo'
. kusta kandala'
. kotor ra'masa
. kantor kantoro
. kambing bembe
. kambing betina bembe gana
55
. kambing jantan bembe laki
. kerbau tedong
. kasihan kamaseang
. kabar kareba
L
. lampu lampu
. lama sallo
. lapar cipuru'
. lari lari
. laut tamparang
. lihat cini'
. lomba lumba
. berlomba pa'lumba
. lebah bampo
. luka bokka'
. lompat lumpa'
. lalat katingngalo
. lewat lalo
M
. makan ngandre
56
. malam bangngi
. mancing mekang
. mau ero'
. meminta a'pala'
. menantu mintung
. mobil oto'
. mobil mobilan oto oto
. motor montor
N
. nama areng
. nomor nomoro'
O
. orang tau
P
. pagi bari'basa'
. pagi-pagi bari'-bari'basa'
. pelit cakka'
. petir kila'
. piring panne
57
. putih kebo'
. panci uring
. pantat paja
. pusar pocci'
. padi ase
. pahit pai'
. pintu pakke'bu'
. parang berang
. pasang tannang
. pisang unti
. pekat pakka
. permisi tabe
. pingsan pinsang
. pagar kalli'
. pedis passe
. pas sitaba
. pasti / jelas nassa
. pahat kattang
. perahu biseang / lepa-lepa
. pancing pekang
. memancing ammekang
. pensil potolo'
58
. pulang motere
R
. rindu nakku
. rokok kaluru'
. rusak panra'
. rusa jonga
. rumput ruku2
. rumah balla'
. rempa2 / bumbu rampa2
. rambut bulu'
S
. sepi / sunyi sammi'
. sedikit sika'de'
. sedikit sekali sikadde' dudu
. suka-suak gue dong ero'-ero'ku
. sumur bungung
. satu se're
. sepatu sapatu
59
. sepeda sapeda
. supir sopir
. siapa nai
. sendok si'ru / sondo'
. senang sannang
. sendirian kale2
. stip/ penghapus hong
T
. tumpul pokkolo'
. tangan limang
. tetapi mingka
. tidak ada tena
. tidur tinro
. tersandung tatto'ro
. tebak tappu
. putus tappu'
. turun naung
U
. uang doe
60
. ular ulara'
. udang dowang
. ubi lame
. ubi jalar lame lamba'
. ulat olo' olo'
. usil ja'dala' / bambala'
W
. wajan pammaja'
. waktu wattu
61
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah suku Makassar adalah suku yang tergolong ke dalam suku Deutro Melayu(Melayu mudah) yang memilikih beragam adat istiadat yang perlu kita lestarikan, dengan cara mempelajari apa apasaja adat istiadat tersebut
Dan suku Makassar tidak hanya tersebar di pulau Sulawesi saja, adajuga yang tersebar di Kalimantan,NTT,dan daerah daerah lainnya di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa suku Makassar sudah piawai dalam mengarungi lautan sejak dulu, olehkarena itu suku Makassar tersebar tidak hanya di Sulawesi tetapi di pulau pulau Indonesia yang lain, bahkan sampai mancanegara
Ada beberapa adat istiadat yang perlu di lestarikan dari suku ini, mulai dari ritual, pakaian adat, alat musik, makanan, kue, kosakata, hingga tarian tradisional dari suku ini
No comments:
Post a Comment